Dalam rangka menurunkan AKI dan AKB perlu dilaksanakan upaya yang terpadu dalam menangani permasalahan dan penyakit yang terjadi pada masa hamil, bersalin, nifas dan bayi neonatus, khususnya dalam menangani kasus kedaruratan obstetric dan neonatus. Untuk memperkuat pencapaian indicator kunci “Making Pregnancy Safer (MPS)” dan Millenium Development Goals (MDG’s), renstra Kementrian Kesehatan 2010-2015 menetapkan bahwa seluruh Puskesmas Kecamatan di Indonesia harus memberikan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) selama 24 Jam.

Puskesmas Mangkang dan jejaring puskesmas, Jumat (12/7/2024)menghadiri Pembinaan dan Evaluasi Puskesmas Poned yang dilaksanakan di Aula Puskesmas Mangkang .Acara yang di selenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang ini di ikuti oleh 19 peserta dr. Azmi Syahril Fandi selaku Kepala Puskesmas Mangkang dalam sambutannya menyampaikan harapannya dengan adanya Poned, Puskesmas dapat melayani pasien bersalin di puskesmas agar tdk terjadi hal-hal keterlambatan dlm melayani tindakan persalinan. Diperlukan kerja sama yang baik dengan rumah sakit ponek agar saling adanya pertukaran ilmu dan wawasan, ungkap Azmi.


Selain itu perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota ibu Intan Laely Rahmawati dalam
Sambutannya menyampaikan adapun tujuan dilakukan pembinaan ini adalah bisa saling me refresh ilmu serta saling sharing tentang kendala sarana prasarana yang kurang sehingga selaras dengan Tujuan Kemenkes untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan( AKI) dan angka kematian bayi (AKB)
Selain itu narasumber, dr. Sugeng Suwoto Sp.OG selaku Kepala Komite medik RS Bhakti Wira Tamtama Semarang dan dr Tri Sondang Kartikawati , Sp.A mentor klinis di RS Bhakti Wira Tamtama Semarang menyampaikan informasi tentang Ibu hamil resiko tinggi dan Stunting, Keduanya Sepakat bahwa akan mempermudah dalam melayani pasien pasien rujukan Baik kegawatdaruratan maternal untuk ibu, maupun kegawatdaruratan neonatal untuk bayi” papar dokter Sugeng.

Leave a reply