
dr. Sugeng Suwoto, Sp.OG – Komite Medik RSBWT Semarang
PENDAHULUAN
Anemia pada masa kehamilan menjadi masalah utama di dunia hingga pada saat ini. Anemia merupakan suatu penyakit yang dapat terjadi pada masa kehamilan akibat ibu kekurangan zat besi. Ibu dengan pengetahuan yang kurang tentang manfaat zat besi akan menunjukkan perilaku yang tidak sesuai anjuran, sehingga diperlukan informasi yang lengkap tentang manfaat zat besi.
Angka kejadian anemia di dunia masih cukup tinggi dan terjadi hampir diseluruh negara. Pada tahun 2012, prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 41,8% di dunia, yaitu di Asia sebesar 48,2%, di Afrika 57,1%, di Amerika 24,1%, dan di Eropa 25,1% (Deprika, 2017) Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan bahwa prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesiasebesar 37,1% (Fitri, Briawan, Tanziha, & Amalia, 2015). Pada tahun 2018, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 48,9% yang
cenderung meningkat dari tahun 2013 yang sebesar 37,1% (Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2018).
Anemia pada ibu hamil umumnya disebabkan karena perubahan fisiologis saat kehamilan dan diperparah dengan keadaan kurang gizi. Anemia yang sering dijumpai pada kehamilan adalah akibat kekurangan zat besi. Hal ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan zat besi untuk menyuplai janin dan plasenta, dalam rangka pembesaran jaringan dan masa sel darah merah. Adapun dampak anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak, abortus, lamanya waktu persalinan karena kurangnya daya dorong rahim, perdarahan dan infeksi.
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di dalamnya lebih rendah dari normal (12 gr%) atau tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Menurut Word Health Organisation (WHO) anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11 gr%. Anemia dalam kehamilan menurut CDC didefinisikan sebagai keadaan dimana Hb <11 g% pada trimester pertama dan ketiga dan Hb <10.5 gr% pada trimester kedua.
TANDA-TANDA
Tanda-tanda anemia pada ibu hamil diantaranya :
- Lemah, lesu, letih, lelah, lunglai
- Kelopak mata pucat
- Lidah dan bibir pucat
- Penglihatan berkunang-kunang
- Pusing
- Nyeri kepala
- Atrofi papil lidah
- Peradangan pada sudut-sudut bibir (cheilitis)
- Adanya kuku sendok (koilonychia)
KOMPLIKASI
Anemia umum dijumpai pada ibu hamil. Meskipun demikian anemia pada ibu hamil tidak boleh dianggap sepele. Jika jumlah sel darah merah dalam tubuh ibu terlalu sedikit, kemampuan darah dalam menyalurkan nutrisi dan oksigen akan terganggu sehingga ibu hamil dan janin berisiko mengalami kekurangan gizi dan oksigen. Keadaan ini tentu dapat membahayakan ibu serta janin dalam kandungan.
Pada beberapa kasus yang parah, anemia di trimester pertama kehamilan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada janin, seperti:
- Pertumbuhan janin terhambat.
- Kelahiran prematur.
- Berat badan bayi saat lahir rendah.
- Kecacatan pada bayi.
- Risiko kerusakan organ vital seperti otak dan jantung terjadi pada kasus yang sangat parah.
Jika kondisi anemia yang dialami ibu hamil terus berlanjut tanpa pengobatan, ada risiko ibu kehilangan banyak darah saat persalinan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala anemia saat hamil dan segera mendapatkan pengobatan.
FAKTOR RESIKO
- Umur Kehamilan sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada keterkaitan antara umur kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Penelitian menunjukkan anemia pada kelompok kasus lebih banyak dialami pada umur kehamilan beresiko anemia yaitu trimester III. Hal ini diketahui meningkatnya kejadian anemia dengan bertambahnya umur kehamilan disebabkan karena terjadinya perubahan fisiologis pada kehamilan yang dimulai pada minggu ke-6, yaitu bertambahnya volume plasma dan mencapai puncaknya pada minggu ke-26 sehingga terjadi penurunan kadar Hb. Selain itu, seiring bertambahnya umur kehamilan secara fisilogis ibu yang akan mendekati masa melahirkan akan cenderung mengalami stres yang berdampak kurang nafsu makan sehingga asupan gizi kurang yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab anemia.
- Keragaman Konsumsi Pangan sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
Tingkat keragaman konsumsi pangan berkaitan dengan tingkat kecukupan zat gizi. Oleh sebab itu, agar dapat mencapai status gizi yang ideal maka konsumsi pangan yang beragam harus disertai dengan jumlah asupan yang sesuai dengan kebutuhan. Ibu hamil perlu mengkonsumsi jenis makanan yang beraneka ragam dan seimbang yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dalam menu harian harus sesuai kebutuhan tubuh sehingga kebutuhan gizi akan mudah terpenuhi. Konsumsi minuman seperti teh dan kopi sudah menjadi kebiasaan banyak orang begitupun ibu hamil. Dapat kita ketahui bahwa teh memiliki banyak manfaat kesehatan, namun ternyata teh juga diketahui dapat menghambat penyerapan zat besi yang bersumber dari bukan hem (non-heme iron). Senyawa zat tanin dalam teh dapat mengikat senyawa besi dan kalsium yang terdapat pada makanan sehingga sulit diserap tubuh yang bisa menyebabkan penurunan zat besi (Fe).
- Status Ekonomi sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
Status ekonomi juga merupakan faktor yang turut menentukan kejadian anemia pada ibu hamil. Hal ini dikarenakan kebutuhan gizi saat hamil lebih banyak dari biasanya dan pemenuhan gizi ibu hamil dapat dipengaruhi oleh pendapatan keluarganya. Semakin tinggi pendapatan maka akan semakin baik gizi kehamilannya.
- Pantangan Makanan sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
Pantangan makanan ialah suatu larangan untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu yang diwariskan dari leluhur melalui orangtua dan turun-temurun ke generasi berikutnya. Faktor pengetahuan juga dapat mempengaruhi tingkat keyakinan terhadap pantangan makanan. Ibu hamil yang berpengetahuan baik mayoritas tidak percaya mitos kehamilan terkait pantangan makanan sedangkan ibu hamil yang berpengetahuan kurang mayoritas percaya mitos kehamilan.
Diketahui bahwa bahan makanan sumber zat besi yang terbaik adalah makanan yang berasal dari sumber hewani seperti ayam, daging, ikan dan hati. Sementara zat besi yang berasal dari sumber makanan nabati, misalnya sereal, kacang-kacangan, dan sayuran hijau, walaupun kaya zat besi, tetapi zat besi tersebut hanya sedikit sekali yang dapat diserap di dalam usus. Untuk mempermudah penyerapan zat besi, harus dikonsumsi bersama dengan sumber vitamin C, seperti buah-buahan.
- Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
Kepatuhan konsumsi tablet Fe dapat mempengaruhi kejadian anemia dalam kehamilan. Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe adalah ketaatan ibu hamil dalam melaksanakan anjuran petugas kesehatan untuk mengkonsumsi tablet Fe. Tablet Fe sangat dianjurkan dikonsumsi sejak memasuki usia kehamilan trimester II dan berlanjut sampai trimester III dengan minimal konsumsi tablet Fe sebanyak 90 tablet. Kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe dapat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu hamil yang baik tentang tablet Fe. Tingkat pengetahuan ibu yang luas dapat membentuk sikap positif terhadap kepatuhan dalam minum tablet Fe, tanpa adanya pengetahuan tersebut, maka ibu sulit menanamkan kebiasaan patuh dalam mengkonsumsi tablet Fe. Anemia pada ibu hamil bisa juga disebabkan karena ketidak patuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet Fe yang dapat dipengaruhi oleh peran tenaga medis yang masih kurang dalam memberikan konseling pentingnya mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan sehingga ketidak pahaman tersebut terkadang menjadikan ibu rentan mengalami anemia.
- Tingkat Pendidikan sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
Tingkat pendidikan merupakan salah satu unsur yang menentukan pengalaman dan pengetahuan seseorang. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengetahuan, dimana seseorang yang memiliki pendidikan tinggi akan lebih mudah dalam menerima informasi baru, berwawasan luas dan dimungkinkan melakukan perilaku pencegahan penyakit yang lebih baik. Ibu hamil yang memiliki tingkat pendidikan dasar yaitu pendidikan yang ditempuh ≤ 9 tahun cenderung kurang dalam menjaga kesehatannya terutama dalam memenuhi nutrisinya selama hamil sehingga lebih berisiko mengalami anemia. Pendidikan juga dapat mengurangi risiko terjadinya anemia dimana ibu hamil yang berpendidikan biasanya memiliki pendapatan yang lebih baik dan makan makanan bergizi sehingga jarang ditemui mengalami anemia gizi. Memiliki pendidikan yang tinggi juga tidak sepenuhnya menjamin ibu hamil terbebas dari anemia. Tingkat pendidikan yang tinggi memang memudahkan ibu hamil dalam menerima informasi kesehatan terkait kehamilannya, namun apabila tidak dapat menerapkan secara benar dalam kehidupan sehari-hari tidak akan dapat merubah kondisi kesehatan seseorang.
PENCEGAHAN
Untuk mencegah anemia pada ibu hamil, setiap harinya dibutuhkan tiga porsi asupan makanan bergizi seimbang disertai makanan atau supplemen yang menunjang pembentukan darah seperti zat besi dan vitamin C. Makanan dengan kandungan zat besi tinggi antara lain daging ikan, ayam maupun sapi, telur, tahu, sayur hijau, kacang-kacangan dan buah naga. Asupan vitamin C bisa didapat dari jeruk, tomat, stroberi dan kiwi.
Suplemen zat besi atau ferrous sulphate dikonsumsi setiap hari dan sebaiknya pada malam hari untuk menghindari efek samping seperti mual, nyeri perut dan diare atau konstipasi, efek samping yang lain yaitu tinja bisa berwarna gelap.
Ibu juga harus rutin periksa ke dokter untuk perawatan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) minimal 6 kali selama masa kehamilan untuk memantau dan memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin, meningkatkan atau mempertahankan kesehatan ibu dan janin, dan mendeteksi apakah adanya masalah pada kehamilan serta mempersiapkan ibu untuk persalinan, ASI dan nifas agar berjalan normal serta bayi dapat bertumbuh dan berkembang secara sempurna. Apabila ibu rutin melakukan kunjungan ANC, maka permasalahan dapat cepat dideteksi dan segera diatasi agar mencegah timbulnya masalah-masalah pada ibu selama masa kehamilan, saat persalinan serta menjaga kesehatan serta kesejahteraan janin dalam kandungan.
PENANGANAN
Pemberian besi dan / atau suplemen asam folat merupakan terapi utama anemia pada ibu hamil. Dosis terapi disesuaikan dengan derajat anemia dan usia kehamilan saat diagnosis ditegakkan. Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2014, merekomendasikan setidaknya ibu hamil mengkonsumsi zat besi berupa tablet tambah darah/TTD (ferrous fumarate) setiap hari selama masa kehamilannya atau minimal 90 (sembilan puluh) tablet. Menambahkan lebih banyak makanan yang tinggi zat besi dan asam folat ke dalam diet juga disarankan. Dalam kasus yang sangat jarang, anemia pada Hb <7 g/dL, atau Hb ≥7 g/dL pada pasien dengan gejala mungkin memerlukan transfusi darah. Evaluasi terapi zat besi dilakukan 2–3 minggu setelah terapi, dan pengawasan dilakukan tiap trimester. Selanjutnya, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium sehingga dokter Anda dapat memeriksa apakah kadar hemoglobin dan hematokrit Anda membaik. Untuk mengobati kekurangan vitamin B12, dokter mungkin menyarankan Anda untuk mengonsumsi suplemen vitamin B12. Bicaralah dengan dokter Anda tentang suplemen mana yang mungkin diperlukan untuk Anda.
DAFTAR PUSTAKA
- Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Ibu Hamil pada masa pandemic Covid-19. 2020. Kemenkes
- Sifakis, S., & Pharmakides, G. 2000. Anemia in pregnancy. Annals of the New York Academy of Sciences, 900(1), 125-136.
- WebMD. Diakses pada 2020. Anemia in Pregnancy.
- Wibowo, Noroyono., et al. Anemia Defisiensi Besi Pada Kehamilan. 2021. Universitas Indoneia.
- Mardiana, Hidayah. Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Nusawungu II Cilacap, 2021. Journal of Nutrition College.
- Cunningham, F.G. et al., 2018. Williams Obstetrics 25th Edition 25 ed., United States: McGraw-Hill Education.


Leave a reply